Seni Tradisional Jatilan

Jatilan, Mungkin sering sekali kita dengar kata tersebut, terkhusus yaitu masyarakat Indonesia. Jatilan adalah seni tradisional jawa yang sangat membudaya. Jatilan tersendiri juga banyak disebut jaran kepang (Kuda Kepang). Disebut demikian karena alat yang digunakan dalam pagelaran ini yaitu dari kepang atau anyaman bambu.

jatilan

Jarilan sendiri adalah merupakan seni tarian tradisional yang paling tua. Jatilan adalah suatu seni tradisional yang bernuansa mistis atau gaib. Karena apa? Yaitu karena dalam seni ini para pemain biasanya kerasukan oleh roh. Pagelaran kesenian ini dimulai dengan tari-tarian oleh para penari yang gerakannya sangat pelan tetapi kemudian gerakanya perlahan-lahan menjadi sangat dinamis mengikuti suara gamelan yang dimainkan. Gamelan untuk mengiringi jatilan ini cukup sederhana, hanya terdiri dari drum, kendang, kenong, gong, dan slompret, yaitu seruling dengan bunyi melengking. Lagu-lagu yang dibawakan dalam mengiringi tarian, biasanya berisikan himbauan agar manusia senantiasa melakukan perbuatan baik dan selalu ingat pada Sang Pencipta, namun ada juga yang menyanyikan lagu-lagu lain.

Tari Jathilan juga merupakan pentas drama yang dibawakan enam orang secara berpasangan yang menggunakan seragam serupa. Sebagai tambahan tari ini, juga menampilkan penari yang menggunakan topeng. Dengan tokoh-tokoh yang beragam, ada gondoruwo (setan) atau barongan (singa). Mereka muncul kala para prajurit itu berangkat perang dengan tujuan untukmenganggu.

Tidak ada yang mengetahui dan mendefinisikan kapan mulanya tari ini ada. Namun yang pasti, Jathilan berkembang di beberapa wilayah seperti, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta. Masing-masing wilayah tersebut menampilkan versi masing-masing.
Kesenian jatilan biasanya ditampilkan saat ada upacara adat ataupun dalam hajatan suatu orang. Selain melakukan gerakan-gerakan yang sangat dinamis mengikuti suara gamelan pengiring, para penari itu juga melakukan atraksi-atraksi berbahaya yang tidak dapat dinalar oleh akal sehat. Di antaranya adalah mereka dapat dengan mudah memakan benda-benda tajam seperti silet, pecahan kaca, menyayat lengan dengan golok bahkan lampu tanpa terluka atau merasakan sakit. Penonton akan dibuat tegang ketika mereka mulai meraih apa saja yang ada didepannya. Bahkan pecahan kaca bisa dimakan sang penari yang tak merasakan sakit apalagi berdarah sedikitpun. Mereka mengunyahnya laksana menikmati makanan cemilan yang enak dan nikmat. Bagi sementara penonton, memang adegan trance itu merupakan tontonan mengasyikkan.

Namun seiring dengan perkembangan zaman, seni tradisional jatilan sudah banyak melakukan renovasi atau perubahan. Seperti halnya dalam music dan lagu. Zaman dulu music jatilan hanya dengan perangkat gamelan dan hanya dengan lagu-lagu jawa. Tetapi sekarang sudah dikombinasikan dengan menambahkan alat musik seperti organ, ketipung dangdut, gitar. Dan lagunya pun sekarang juga sudah dikombinasikan dengan lagu-lagu modern seperti dangdut, pop, dan rock.

Seperti halnya di Yogyakarta, contohnya jatilan gondang pusung yang berada di lereng bukit merapi, mereka mengusung adat jawa sekali, seperti dengan berbagai macam sesaji dan persembahan. Biasanya mereka mendominasi dengan 2 jenis, yaitu jatilan laki-laki dan perempuan, ada juga dengan warok, gedruk atau genderuwo. Saat ini banyak diminiati dari usia anak-anak, dewasa, maupun lansia. Karena pertunjukan ini sangat mengasyikan dan menegangkan.

Hanang Tri Nugroho (10.11.4407)

Anda dapat mengikuti semua artikel di KlatenNews.com Dengan RSS Feed. Dan anda dapat merespon dengan meninggalkan Komentar di bawah ini.
Tinggalkan Komentar

VALAS

Klaten News

About KlatenNews.com | Privacy policy | Terms of use | Kontak Kami | Sumbmit Konten

© 2014 Koran Online Kota Klaten. All Rights Reserved.