Pancasila, Rajutan Pemersatu Bangsa dan Negara

Support by: Polda Jateng Cyber Team

Polres Kudus Cyber News – Puluhan Pembina Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK R) di Kab. Kudus mengikuti kegiatan Peningkatan Kapasitas di Aula Kantor Dinas Sosial di Komplek Perkantoran Mejobo Kudus, Rabu (9/10).

“Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kab. Kudus yang diikuti oleh sekitar 100 orang dengan tujuan membekali Kader Pembina PIK-R Se-Kab. Kudus” terang Yudo Sutrisno selaku Ketua Panitia Penyelengga Kegiatan.

“Beberapa hari lalu, tepatnya 1 Oktober 2019 kita baru saja memperingati Hari Kesaktian Pancasila untuk yang kesekian kalinya, yang jadi pertanyaan adalah : Apakah Pancasila kita sampai dengan saat ini masih sakti, atau mungkin Pancasila kita justru malah sedang sakit karena dikepung oleh banyak sekali ancaman yang ingin menggantinya, dan terlebih ancaman itu datang dari segala penjuru arah” demikian pernyataan IPDA Subkhan, S.H., M.H selaku Kanit Kamsus Satintelkam Polres Kudus mengawali materinya.

“Membandingkan Al Qur’an dengan Pancasila sungguh merupakan suatu hal yang tidak sebanding. Membandingkan yang sebanding itu misalnya Al Qur’an dengan Injil, Taurat atau Zabur yang merupakan sama-sama Kitab Suci. Pancasila merupakan kesepakatan luhur atau konsensus nasional dari para pendiri negara, yang digali dari prinsip Hukum Islam yang menjadi agama mayoritas masyarakat Indonesia dan sesuai dengan karakter jati diri Bangsa Indonesia, sehingga Pancasila mampu menjadi rajutan atau salah satu alat pemersatu Bangsa Indonesia selain NKRI, Bhineka Tunggal Ika dan UUD 1945, sedangkan Al Qur’an itu merupakan wahyu Tuhan. Pancasila tidak akan mampu menyamai Al Qur’an” terang IPDA Subkhan.

“Dijaman Nabi sudah tidak ada, seperti sekarang ini dan ulama dari masa ke masa selalu berbeda pendapat, dan bahkan hanya gara-gara perbedaan pendapat dalam menafsirkan ayat, sampai terjadi peperangan atau saling bunuh yang disebabkan karena alasan paling dapat memahami ajaran agama dan harus meluruskan yang bathil. Ketika jaman Nabi, segala perbedaan bisa langsung dimintakan fatwa kepada Nabi. Kalau hari ini ketika tidak ada Nabi atau wakil Tuhan, dan yang ada hanya interprestasi serta hasil pemikiran manusia, maka solusinya adalah kita harus hidup dengan konsensus nasional atau kesepakatan yang dapat mengantar kita pada terwujudnya tujuan syariat atau maqosid syariat sampai nanti datangnya wakil resmi Allah,” pungkasnya.
Polres Kudus Cyber News

Support by: Polda Jateng Cyber Team

Site Footer