Malam 1 Suro Sarana Introspeksi Diri

Support by: Polda Jateng Cyber Team

Polresta Surakarta Cyber News
SOLO – Tapa bisu, kirab pusaka dan Kebo Bule memperingati Malam 1 Suro, tak bisa dipisahkan dari Keraton Pura Mangkunegaran dan Keraton Kasunanan Surakarta. Gelaran satu tahun sekali ini selalu menjadi magnet masyarakat.

“Kegiatan ini (tapa bisu) bukan parade baris berbaris. Tapi, merupakan laku prihatin,” jelas sekretaris panitia kirab pusaka Pura Mangkunegaran Mas Ngabehi Wedono Joko Pramodyo ditemui tadi malam.

Sore hari, sebelum kirab dimulai, sejumlah abdi dalem sibuk menyiapkan segala keperluan. Mulai dari menata kursi di Paringgitan Pura Mangkunegaran dan ubo rampe.

Tepat pukul 19.30, keluarga Keraton Pura Mangkunegaran, abdi dalem, berjajar rapi di depan Pendapa Agung. Dipimpin GPH. Bre Cakrahutama Wira Sudjiwo, sebagai cucuk lampah, rombongan kirab mulai keluar melalui pintu selatan Pura Mangkunegaran diikuti masyarakat.

Selama kirab dengan rute Jalan Ronggowarsito, Jalan Kartini, Jalan R.M. Said, Jalan Teuku Umar dan kembali ke kompleks Pura Mangkunegaran, tidak ada satu pun yang bicara. Mereka melakukan tapa bisu.

“Tapa bisu artinya tak boleh bicara. Ritual tapa bisu selalu dilakukan pada Malam 1 Suro sebagai bentuk perenungan. Bagi masyarakat Jawa, tapa bisu sebagai wujud introspeksi diri dan laku prihatin. Berkaca pada masa lalu dan berharap segala sesuatu yang baik di masa mendatang,” beber Joko.

Satu jam kemudian, rombongan kirab tiba di pintu selatan Pura Mangkunegaran. Acara dilanjutkan dengan membagikan ribuan nasi bungkus. Termasuk kepada masyarakat yang hadir.

“Nasi bungkus ini merupakan tanda kepedulian KGPAA Mangkunagoro IX pada masyarakat. Dengan berbagai sedekah ini diharapkan masyarakat makin sejahtera di masa mendatang,” jelasnya.

Belum usai, masyarakat yang hadir tadi malam juga dipersilakan mengikuti prosesi semedi di dua tempat. Mereka yang memakai busana adat Jawi Jangkep ditempatkan di Pendapa Agung, sementara lainnya di Paringgitan. “Ini kegiatan doa bersama jelang tengah malam sampai dini hari, di tanggal 1 Suro,” terangnya.

Kirab Malam 1 Suro juga digelar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dengan mengarak pusaka yang dikawal Kebo Bule. Kegiatan tersebut dimulai sekitar pukul 23.00. Rombongan mulai berjalan dari depan Kori Kamandungan menuju Gladak, Jalan Kapten Mulyadi, Jalan Veteran, Jalan Yos Sudarso, Jalan Slamet Riyadi dan kembali ke kompleks keraton.

“Kebo Bule jadi cucuk lampah kirab kemudian disusul barisan prajurit pembawa pusaka. Diikuti sentana dalem dan ratusan abdi dalem. Kebo Bule dianggap sebagai lambang keselamatan. Karena itu ditempatkan di barisan paling depan” urai Pengageng Parentah Karaton Surakarta KGPH Dipokusumo.

Menurutnya, peringatan Malam 1 Suro menitikberatkan pada ketenteraman batin dan keselamatan. Sebab itu, selalu dilengkapi dengan pembacaan doa untuk mendapatkan berkah dan menangkal datangnya marabahaya.

“Selama bulan Suro masyarakat Jawa diingatkan selalu eling lan waspodo (ingat dan waspada). Eling artinya manusia harus tetap ingat siapa dirinya dan kedudukannya sebagai makhluk ciptaan Allah SWT. Sementara waspodo artinya harus tetap terjaga dan waspada dari segala godaan dan perbuatan buruk,” pungkasnya.
(Radar Solo)

 

Polresta Surakarta Cyber News

#kapolda jateng #polres kendal #humas polda jateng #bidhumas polda jateng #tribratanews.jateng.polri.go.id #ditreskrimsus polda jateng #ditreskrimum polda jateng #Rycko Amelza Dahniel #jawa tengah #jateng #berita jawa tengah #Agus

Support by: Polda Jateng Cyber Team

Site Footer