Tak Tersorot, Ini Kisah Abah Landoeng, Kayuh Sepeda 7 Bulan ke Tanah Suci untuk Berhaji di Usia 75

Support by: Polda Jateng Cyber Team

Polresta Surakarta Cyber News
TRIBUNJATENG.COM – Abah Landoeng (94) menceritakan kisahnya saat mengayuh sepeda selama tujuh bulan dari Indonesia ke Arab Saudi untuk berhaji.

Saat itu, tahun 2002.

Usianya menginjak 75 tahun. Meski tidak muda, ia bertekad untuk ke Tanah Suci menggunakan sepeda Federalnya.

“Sebenarnya niat awalnya untuk membantu bencana alam di Sumatera. Tapi ada niat besar juga untuk berhaji,” ujar Abah Landoeng kepada Kompas.com di Bandung, Selasa (13/8/2019).

Home » Features
Tak Tersorot, Ini Kisah Abah Landoeng, Kayuh Sepeda 7 Bulan ke Tanah Suci untuk Berhaji di Usia 75
Rabu, 14 Agustus 2019 11:54

Tak Tersorot, Ini Kisah Abah Landoeng, Kayuh Sepeda 7 Bulan ke Tanah Suci untuk Berhaji di Usia 75
KOMPAS.com/RENI SUSANTI
Abah Landoeng, guru di zaman perang kemerdekaan yang mengajar keliling dengan sepeda tanpa digaji.

TRIBUNJATENG.COM – Abah Landoeng (94) menceritakan kisahnya saat mengayuh sepeda selama tujuh bulan dari Indonesia ke Arab Saudi untuk berhaji.

Saat itu, tahun 2002.

Usianya menginjak 75 tahun. Meski tidak muda, ia bertekad untuk ke Tanah Suci menggunakan sepeda Federalnya.

“Sebenarnya niat awalnya untuk membantu bencana alam di Sumatera. Tapi ada niat besar juga untuk berhaji,” ujar Abah Landoeng kepada Kompas.com di Bandung, Selasa (13/8/2019).

 

Dengan membawa uang Rp 1,2 juta, paspor, beberapa helai pakaian, dan makanan, ia melajukan sepedanya dari Bandung.

Ia kemudian menyusuri Jakarta lalu masuk ke Palembang.

Ia kemudian mengecek kondisi Sumatera.

Kondisi daerah tersebut masih baik-baik saja.

Banjir yang merendam Palembang hanya banjir kecil biasa.

Dari sana, keinginannya untuk berhaji semakin kuat.
Dengan mengucap basmallah, ia melanjutkan perjalanan.

Ia masuk ke Batam untuk menyeberang ke Batam, Singapura, Malaysia, Thailand, Myanmar, Bangladesh, India, Pakistan, menyebrangi Laut Merah, hingga akhirnya sampai di Arab Saudi pada 2003.

“Di perjalanan, kalau capek saya istirahat di masjid. Tidur juga sering di masjid,” ungkapnya.

Sesampainya di Mekah, ia merasakan kebahagiaan luar biasa.

Home » Features
Tak Tersorot, Ini Kisah Abah Landoeng, Kayuh Sepeda 7 Bulan ke Tanah Suci untuk Berhaji di Usia 75
Rabu, 14 Agustus 2019 11:54

Tak Tersorot, Ini Kisah Abah Landoeng, Kayuh Sepeda 7 Bulan ke Tanah Suci untuk Berhaji di Usia 75
KOMPAS.com/RENI SUSANTI
Abah Landoeng, guru di zaman perang kemerdekaan yang mengajar keliling dengan sepeda tanpa digaji.

Dengan mengucap basmallah, ia melanjutkan perjalanan.

Ia masuk ke Batam untuk menyeberang ke Batam, Singapura, Malaysia, Thailand, Myanmar, Bangladesh, India, Pakistan, menyebrangi Laut Merah, hingga akhirnya sampai di Arab Saudi pada 2003.

“Di perjalanan, kalau capek saya istirahat di masjid. Tidur juga sering di masjid,” ungkapnya.

Sesampainya di Mekah, ia merasakan kebahagiaan luar biasa.

 

Ia tidak menyangka bisa sampai ke Tanah Suci setelah tujuh bulan perjalanan.

Di Tanah Suci, selain melaksanakan rangkaian ibadah haji, ia berkeliling Mekah dengan sepedanya.

Ia mendapat banyak bantuan dari orang-orang yang bertemu dengannya.

Seperti kamar hotel mewah hingga makanan.

Bahkan tiket pesawat untuk pulang ke Indonesia dan taksi dari Jakarta-Bandung, ditanggung donatur.

“Tentunya banyak cerita yang menyenangkan ada juga kesedihan. Tapi banyak menyenangkannya,” ungkapnya.
Jadi relawan tsunami Aceh 2004

Setahun kemudian, tepatnya tahun 2004, tsunami menerjang Aceh.

Tanpa pikir panjang, Abah Landoeng mengayuh sepedanya untuk pergi ke lokasi bencana.

Di Aceh, ia membantu proses trauma healing. Salah satunya dengan kemampuannya dalam pijat tradisional.
Selain Aceh, ia pun kerap menjadi relawan di daerah bencana.

Ia ingin mengabdikan hidupnya untuk kehidupan sosial lewat kemampuannya.

Jika masa mudanya ia dedikasikan untuk dunia pendidikan, maka di masa tuanya Abah Landoeng mengabdikan hidupnya di lokasi-lokasi bencana.

Ketika ditanya alasannya kerap berbagi meski tidak dibayar, ia menjawab karena dirinya orang yang sederhana dan tidak punya.

Karena itu, ia ingin berbagi melalui kemampuan yang ia miliki, dari mengajar hingga relawan bencana.

Jadi panitia Konferensi Asia Afrika 1955

Tak hanya itu, Abah Landoeng pun tercatat sebagai panitia Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955.

Saat itu ia bertugas menyediakan kendaraan untuk para delegasi.

Ia tidak mengalami kesulitan dalam mengumpulkan kendaraan dari orang kaya yang ada di Bandung.

Sebab sifat berbagi yang dimilikinya ini membuat ia mengenal orang dari berbagai kalangan dari kelas bawah hingga atas.

Bahkan kini, ia masih saling berkunjung dengan mantan Gubernur Jabar, Solihin GP.

“Angkatan Abah dah pada ga ada. Tinggal saya dan Mang Ihin (Solihin GP),” tutupnya. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Cerita Abah Landoeng, Kayuh Sepeda 7 Bulan ke Tanah Suci untuk Berhaji
(TribunJateng)
PolrestaSurakarta Cyber News

 

Support by: Polda Jateng Cyber Team

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer