Mbah Wiro Balung, Sosok Penting Dibalik Berdirinya Museum Trinil yang Kumpulkan Fosil Sejak 1967

Support by: Polda Jateng Cyber Team

Polresta Surakarta Cyber News

NGAWI, KOMPAS.com – Tidak banyak pengunjung Museum Trinil yang memperhatikan informasi tentang sejarah pendirian Museum Trinil yang dipasang di sebelah kanan diorama manus purba. Kebanyakan pengunjung lebih tertarik memperhatikan diorama Pithecanthropus erectus, manusia purba yang menghuni kawasan Desa Kawu tempat museumtersebut didirikan pada 1 juta tahun yang lalu.

Pada papan informasi sederhana tersebut, diceritakan sosok Wirodiharjo atau dikenal dengan nama Mbah Wiro Balung yang punya peran penting dibalik berdirinya Museum Trinil. Nama Balung yang disematkan, dalam Bahasa Jawa berarti tulang belulang.

Agus Hadi Widiarto, petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya BPCB Trowulan mengaku mengenal langsung sosok Mbah Wiro Balung. Saat itu, Agus adalah siswa SMA Soeryo yang sering berkunjung ke museum untuk belajar teori evolusi. Seringnya berkunjung ke museum, membuat Agus kenal dekat dengan Mbah Wiro Balung.

“Saya lulus dari SMA Soeryo tahun 1990 dan mulai bertugas di Museum Trinil dari BPCB Trowulan tahun 1992,” ujarnya Senin (10/06/2019).

Perjalanan hidup Mbah Wiro Balung, kata Agus, sempat terlunta-lunta usai gagal mencalonkan diri sebagai bayan atau perangkat desa. Mbah Wiro Balung yang tinggal di Desa Kawu bagian Selatan akhirnya diberi kepercayaan oleh Kepala Desa Kawu, Suwandi untuk memelihara dan menjaga keberadaan tugu penemuan fosilPithecanthropus erectus yang dibangun oleh Eugene Dubois pada tahun 1889.

“Dulu kan banyak peneliti datang ke sini dan di sini ada tugu penemuan yang dibangun. Mbah Wiro Balung ini yang tinggal di sini merawat tugu,” katanya.

Karena tinggal di kawasan situs penggalian fosil, Mbah Wiro Balung akhirnya mempunyai kepedulian untuk mengumpulkan tulang fosil yang saat itu banyak ditemukan oleh warga.

Warga menyebut temuan tulang yang kebanyakan adalah tulang hewan dan fosil pohon dengan tulang buto. Menurut masyarakat setempat, Buto merupakan makhluk yang berbadan sangat besar.

“Karena tulang yang ditemukan itu berukuran besar, warga menyebutnya tulang buto,” imbuh Agus.

Berkat kegigihan Mbah Wiro Balung memberikan pemahaman akan pentingnya nilai historis tulang tersebut, warga dengan suka rela menyerahkan temuan fosil tulang kepadanya.

Mbah Wiro Balung juga meminta kepada warga untuk tidak menjual tulang fosil temuan mereka kepada kolektor yang sering berburu fosil. Alhasil rumah yang ditinggali mbah Wiro Balung penuh dengan temuan fosil tulang yang diserahkan warga.

Mbah Wiro Balung mulai kewalahan menyimpan fosil temuan warga. Lalu Kepala Desa Kawu, Suwandi meminta bantuan Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk membangun rumah joglo di area tugu penemuan tulang yang dibangun oleh Eugene Dubois.

Pada tahun 1980-an, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mulai membangun sebuah rumah joglo yang difungsikan untuk menyimpan tulang fosil  yang telah dikumpulkan oleh Mbah Wiro Balung dari warga. Pembangunan tersebut penting karena situs penemuan tulang Pithecanthropus erectus sering dijadikan rujukan utama penelitian peradaban manusia purba.

Polresta Surakarta Cyber News

Support by: Polda Jateng Cyber Team

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer