Mencecap Eksistensi Gultik di Rintik Hujan Dini Hari Blok M

Polresta Surakarta Cyber News — Hujan mengguyur sekitar satu jam di kawasan perempatan di belakang Blok M Plaza, Jakarta Selatan, Kamis (8/11) dini hari. Sejumlah pedagang gulai, yang dikenal dengan merek Gule Tikungan (Gultik), setia di lapak dagangannya melawan dingin.

Jumlah pengunjung Gultik di kawasan dengan cahaya temaram itu tak seramai biasanya. Dalam kurun dua jam, terhitung hanya lima orang yang mampir ke lapaknya. Tiga orang datang menggunakan mobil, dua lainnya datang dengan berjalan kaki.

Melalui satu sahutan, seorang pelanggan dari dalam mobil memesan seporsi Gultik kepada Agus, salah satu pedagang. Tak sampai dua menit, hidangan sederhana itu sudah tiba di tangan pelanggan.

Agus adalah satu dari 30 penjaja Gultik yang mangkal di trotoar sekitar persimpangan Jalan Mahakam dan Jalan Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan. Pemuda lajang berusia 22 tahun asal Sukabumi itu sudah menyajikan Gultik sejak empat tahun lalu.

“Kadang yang bikin tidak happy ya seperti ini, ketika hujan jadi sepi begini,” ucap Agus dengan senyum terkembang saat ditemui di lokasi.

Gultik diketahui sudah hadir di kawasan ini sejak 1997. Dari para penjaja Gultik inilah sebagian reputasi Blok M sebagai sentra kuliner dan hiburan favorit warga dari beragam kelas ekonomi terbentuk.

Semangkuk Gultik sendiri pada umumnya terdiri dari nasi dalam porsi kecil yang disiram kuah santan berisi daging dan atau jeroan sapi yang dipadu dengan irisan tomat, cabai rawit, dan ragam bumbunya lainnya. Tak lupa, krupuk putih tipis ukuran kecil menjadi topping-nya.

Cukup merogoh Rp10.000 per porsi, siapa pun dapat menikmati gultik. Penikmatnya datang dari beragam latar belakang; pemuda yang kelaparan usai ajojing di lantai dansa, pelajar, pegawai kantoran, hingga rombongan intelijen kepolisian.

Pedagang gultik lainnya, Gareng (42), bernasib sedikit lebih baik pada malam itu. Satu keluarga besar sempat mampir ke tempatnya. Ia pun sedikit lebih sibuk dari kawannya itu.

Bagi Gareng yang sudah berjualan sejak 2001, kondisi sepi dan hujan ini adalah bagian dari risiko pedagang yang aktif berjualan di tengah malam.

“Yah namanya jualan kan hasilnya tidak menentu, sama seperti ada siang dan malam, jadi selalu ada risikonya,” ucap pria asal Sukoharjo tersebut.

Saat keadaan sepi, Gareng dan Asep mengaku bisa menjual 50 porsi dengan omzet Rp500 ribu per hari. Dengan omzet sebesar itu, upah yang mereka dapat ialah Rp50 ribu-Rp100 ribu.

Ketika pengunjung ramai, mereka bisa meraup Rp1 juta dalam semalam dengan penjualan 250 porsi. Hal ini biasanya terjadi pada akhir pekan atau hari libur nasional.

“Kita biasa stand by sampai jam 4 atau jam 5 pagi, tapi kalau ramai begitu kita pulang lebih cepat karena dagangan ludes,” ujar Agus, semringah.

Rata-rata, Agus menyebut pendapatannya sebagai pedagang bisa mencapai Rp3 juta – Rp4 juta dalam sebulan. Kalau ramai, ia bahkan bisa menerima Rp5 juta.

“Alhamdulillah saya bisa beli motor sendiri cash dan punya lima kambing di kampung,” ucap dia.

Tahan Lama

Gareng berpendapat Gultik dapat bertahan lama bukan karena cita rasanya saja. Ia menilai eksistensi mereka dibantu oleh komunitasnya yang kompak. Salah satu wujud kekompakannya adalah koordinasi dalam menghindari kejaran razia Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Menurut dia, ada rantai koordinasi yang rapi dari pemodal dan pedagang. Kekompakan itu akan semakin tergalang ketika akan ada penertiban atau acara Pemprov DKI Jakarta yang mengharuskan jalanan steril, atau ketika ada kelompok preman yang ingin pamer kekuatan.

“Susah deh kalau ada yang mau mengusik di sini. Ada orang Malang, Surabaya, Palu, Manado, dan banyak lagi yang saling bantu dan jaga kita di sini,” ujar Gareng.

Selain itu, ada kekompakan dalam praktik bisnis. Para pedagang, katanya, tak saling sikut, misalnya, dalam penentuan harga. Jika ada kenaikan harga pangan, mereka akan berembuk menentukan harga baru. Alhasil, tak akan ada satu lapak yang harganya miring sendiri dari yang lain.

Tawuran

Hanya saja, para pedagang diakui tak bisa berbuat banyak jika terjadi tawuran pelajar. Tawuran, terutama antara SMAN 6 dan SMAN 70 yang jaraknya berdekatan di kawasan Bulungan, Blok M, diketahui sudah kerap kali terjadi.

Agus mengaku pernah menyaksikan sendiri seorang pelajar ditebas dengan benda tajam. Saat itu, siswa SMAN 6 sedang diserang oleh pelajar sekolah lain. Seorang siswa yang mencoba berlindung dengan berpura-pura makan di salah satu tenda Gultik terkena sabetan di tangan.

“Karena senjatanya tidak terlalu tajam, beruntung tangan anak itu tidak sampai luka berat,” ujar Agus mengenang.

Jika tawuran terjadi, Agus dan koleganya tak bisa berbuat banyak. Piring pecah hingga pelanggan kabur harus mereka relakan. Namun, lagi-lagi Agus dan Gareng menyebut bahwa itu adalah bagian dari risiko berdagang di kawasan itu.

(arh/dea)

 

Polresta Surakarta Cyber News

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer